Rabu, 25 September 2013

Surat untuk Budi

Sahabatku Budi,
Agaknya hidup ini di kala tertentu memaksa kita untuk merasakan existential vacuum—kekosongan eksistensial. Kita merasa tidak ada yang mengisi hidup kita sebagai human being. Kita merasa frustrasi. Tidak lagi yang menjadi perhatian kita adalah untuk mengisi hidup namun sekadar menjalankan hidup. Ya, sekadar. Semua itu terasa begitu tidak mengenakkan hati. Hidup jadi tidak ada menarik-menariknya. Bagaimana denganmu, sedang atau pernahkah kau mengalaminya? Kita hidup sekadar hidup, mencari-cari tujuan dalam ketiadaan yang tak satu setan pun tahu, begitu kata seseorang yang tentu kau kagumi; Soe Hok Gie.

Aku selalu ingat, suatu waktu yang lalu kita bersama sahabat-sahabat kita bermain ombak kecil yang nakal di tepian Lautan Hindia. Tentu kau akan selalu mengingatnya. Tahukah kau? Ternyata si ombak kecil itu kini telah menjadi besar, tidak nakal lagi, malah mengerikan. Entah karena sedang pasang atau entah memang es di kutub yang mencair sudah menampakkan kengeriannya. Kemarin aku telah membuktikannya. Ya, Pantai Nampu, tepian Hindia di bumi Wonogiri, dan barangkali juga pantai kecil yang kesepian di sebelahnya yang berada di bumi Pacitan. Aku kembali ke sana untuk menemukan kehangatan persahabatan yang dimimpikan setiap manusia modern ini. Persahabatan sederhana yang hanya sekadar persahabatan, tanpa pretensi apapun di belakangnya. Tanpa cericau manis mengenai kebaikan dan kebenaran. Tak lain yang ada dalam persahabatan memang cuma sekadar kebaikan dan kebenaran—bukan cuma cericau belaka. Romantis bukan?

Aku kembali ke sana bersama Galih—barangkali yang lain tak kau kenal; Yutti, Rimpi, Andang, dan Ditya. Betapa berbedanya eksotisme pantai saat ini dengan yang lalu, tentu saja karena dunia dan isinya juga berubah tanpa kompromi terlebih dulu dengan kita. Persamaannya adalah; di sana tersemai benih kebahagiaan dan persahabatan. Sayang kami tidak bisa menyebrang lewat bawah menuju pantai yang sangat indah namun kesepian itu—seperti kita dulu. Oh ya, sebelumnya kita membuat kesepakatan saja bagaimana? Kita namai pantai itu pantai tanpa nama. Memang, karena sampai sekarang pun kita tidak tahu-menahu mengenai nama pantai dengan air terjun kecil yang segar itu.

Sangat berbeda dengan pengalaman kita dulu, Bud. Setiap pengalaman memang memiliki kejadian dan impresi yang khas. Kami berenam hampir terseret ombak karena mencoba menyebrang lewat pinggiran pantai dengan batu karang bertekstur kasar, lancip lagi tajam sebagai temboknya. Tubuhku sendiri menggigil tidak karuan, rasanya hampir mati di tempat yang sangat indah itu. Ya, konyol sekali. Kalau Bung Karno ikut bersama kami mungkin dalam kesannya akan terucap; vivere veri coloso. Akhirnya kami harus menaiki bukit demi mencapai pantai tanpa nama itu. Dan justru bukit itu menjadi saksi dari momentum yang bikin kita harus rendah hati. Lautan Hindia yang membentang luas di hadapan kami membuat nyali menjadi ciut, meskipun warnanya begitu indah; biru kehijauan.

Tentu kau tidak bisa membayangkan lanskap indah di sana kalau pantai itu menjadi serupa pantai di Jawa pesisir Utara yang keruh tidak karuan. Airnya yang coklat seperti berlumpur dan menyerupai kopi-kopi instan yang dijual di warung-warung. Kau tahu kan apa penyebabnya?

Kita itu kecil sekali dibandingkan dengan dunia ini”, kata Ditya, “tapi mampu untuk merusak dunia”. Sambil tercenung karena memiliki buah pikir serupa, aku menjawabnya pendek, “Iya”. Kita memang sangat sangat kecil dan barangkali tidak berarti apapun bagi kehidupan di Lautan Hindia itu. Kau tahu tidak? Pertanyaan dari Ditya, entah tepat atau tidak aku sebut pertanyaan, terus menciptakan pertanyaan tak berujung dalam diriku. Lebih baik dalam diri setiap orang dan tentu pula dalam dirimu. Kita ini tidak lebih dari sehelai rambut atau mungkin setetes darah dalam tubuh semesta ini. Atau dalam Sophie’s World-nya, Jostein Gaarder dengan sederhana menyebut “Kita juga adalah bintang kecil”.

Tapi bukan cuma masalah ukuran kita ini kecil atau besar. Yang lebih menyakitkan adalah pernyataan yang mengikutinya; “tapi mampu merusak dunia”. Begitu rombengkah wajah si manusia itu? Begitu burukkah wajah kita? Kau tentu pernah mendengar tentang Hitler kecil yang suka menggambar dan menjadi seorang yang bermimpi menyatukan dunia dalam ideologinya, namun dengan jalan membantai bangsa Yahudi. Lalu di negeri kita tentu kau sangat mengenal Soeharto, anak petani seperti kita, yang gencar membangun negeri kita dari inflasi 650 % namun menjadi tiran terbesar sepanjang sejarah bangsa kita. Betapa manusia itu baik dan kejam. Betapa dunia ini indah namun mengerikan. Cobalah kau cari informasi lebih jauh, barangkali aku salah. Tapi jangan sampai kehilangan daya kritismu. Sekarang terlalu banyak sumber informasi yang malah mengantar kita kepada kemandulan kreasi dan daya cipta.

Kita ini apalah lagi, sudah berbadan kecil tidak lebih dari seratus tujuh puluh centimeter dan tidak berlebihan pula kalau kita ini cuma orang kecil, tepatnya marhaenis. Kita tidak lahir dari darah bangsawan, ningrat, ataupun aristokrat. Namun, itulah yang menjadi kelebihan kita. Aku kira kau tahu mengapa aku menyebutnya kelebihan. Kalau tidak bosan membaca suratku ini, aku akan menjelaskan alasan, yang mungkin konyol, mengapa aku menyebutnya kelebihan di bawah ini.

Lihatlah berita di koran-koran atau di media-media lain; ada kelaparan, buruh pada demo, bencana alam, dan tentu bencana-bencana kemanusiaan lainnya. Bukankah yang kelaparan, berdemo, dan kena bencana ini mayoritas cuma orang kecil seperti kita? Terlalu cepatkah aku mengambil kesimpulan bahwa orang kecil yang selalu disorot? Tidak berbeda pula dengan para koruptor yang saban hari tambah terkenal dengan korup-nya. Bukankah mereka juga orang yang kecil? Maksudku tidak lain adalah kecil hati dan moralnya. Tentu saja iya, sampai-sampai kapitulasi hidupnya adalah terhadap uang. Betapa sendunya kehidupan manusia ini. Ya, apalagi yang membuat orang terhormat kalau bukan uang dan kedudukan? Kalau ada yang salah, tolong aku dibenarkan. Maklum kita cuma penonton. Apalah tugas penonton kalau tidak membuat persepsi. Dan apalah tugas manusia kalau tidak menafsir tanda-tanda. Aku tidak tahu, sebagai orang kecil, sikap bagaimana yang harus aku wujudkan. Berbanggakah atau bersedihkah. Sejak jaman dulu memang kita dibiasakan untuk menunjukkan sikap yang tidak melukai hati orang lain—grief niet, begitu para pendahulu kita menyebutnya. Semoga sikap tersebut tidak mengurangi kedekatan emosional dalam persahabatan kita.

Namun jauh dari semua itu, yang aku maksud di sini dengan kelebihan adalah bahwa kita bersahabat. Kita juga seperti manusia normal yang butuh berafiliasi. Aku sendiri merasa kasihan terhadap banyak orang yang merasa tidak memiliki sahabat atau mencari sahabat namun merasa tidak pernah menemukannya. Kalau kau tahu orang seperti itu, beritahukanlah kepadanya bahwa aku mau menjadi sahabatnya. Tidak peduli dari golongan apa, agama apa, atau ras apa. Karena persahabatan memang tidak diukur dari golongan, agama, dan ras. Bukankah begitu?

Sebagai seorang pemimpi kebaikan dan kebenaran, aku gerah sekali mendengar banyak orang menjadi bermusuhan karena berbagai macam alasan konyol seperti tiga hal yang telah aku sebutkan tadi. Pada intinya hanya karena memiliki perbedaan. Apakah mereka belum paham bahwa manusia itu sama dalam suatu hal dan unik dalam hal lainnya? Kau tahu berapa umur manusia pertama? Aku rasa hanya menjadi pembenaran bodoh yang menyatakan bahwa tidak bersahabat karena tahu bahwa diantara manusia sangatlah berbeda, termasuk dalam cara pandang itu tadi. Apakah kita sudah enggan menjadi manusia dan menginginkan jiwa seekor kambing hidup dalam diri kita? Mana ada cerita kambing bersahabat dengan manusia? Kalau ada, aku berani mengatakan bahwa cerita itu sungguh konyol dan bodoh, tak realistis pula. Kambing tahunya cuma makan rumput; dan mungkin disembelih.

Pernahkah kau mendengar bahwa “semakin bebas manusia maka akan semakin merasa kesepian”? Aku rasa sudah ada pergeseran pada jaman kita akan apa yang dimaksud bebas. Aku kira bebas tidak lalu berarti semau gue. Tidak lalu berarti murni otonom. Aku kesulitan menceritakan padamu bagaimana batas yang aku maksud. Kalau aku sendiri mampu mewakili generasi kita, barangkali batas dan kata memang menjadi kebalauan tersendiri bagi generasi ini. Toh kata-kata juga cuma mereduksi makna.

Aku takut manusia sudah terlalu otonom dan kehilangan daya juang untuk bersahabat. Bersahabat juga butuh daya juang, Bud. Aku tidak bisa membayangkan kalau manusia menjadi impoten hidupnya. “The course of true love never did run smooth”, kata Shakespeare. Bersahabat sama saja dengan bercinta. Karena persahabatan sendiri merupakan ekspresi dari cinta; philia. Semoga masih ada orang-orang yang mau berjuang demi persahabatan. Karena mabuk asmara pun akan dirasakan di sini. Bahkan lebih dari sekadar kata mabuk; ekstasis. Kau tahu serotonin juga akan tersekresi ketika kita sedang bersama sahabat? Kita akan merasa tenang dan senang. Itulah inti ekstasis itu.

Kau tahu, entah dari mana datangnya, aku adalah orang yang merindukan romantika kehidupan. Banyak yang tidak mesra lagi dalam hidup ini. Aku tidak perlu membuktikannya kau akan bisa menebaknya sendiri apa saja yang aku maksud tidak mesra lagi. Kalau aku memceritakannya di sini akan sangat panjang dan membosankan. Barangkali kau pun sekarang telah bosan membaca surat ini. Ya sudah, aku potong dulu saja cericauku ini, aku tidak mau kau bosan dengan persahabatan kita ini.
Oh ya, aku lupa, maaf harus aku tambahkan sedikit. Tentu saja suratku ini surat orang kecil, orang yang tidak bisa berbuat apa-apa ketika dihadapkan dengan Lautan Hindia. Dan tentu bukan surat orang pandai, kau tahu kan nilaiku di sekolah juga cuma seberapa? Jaman kan menuntut yang menjadi indikator pandai adalah tidak lain kalau bukan nilai itu sendiri. Tapi, sekali lagi aku katakan kalau aku, atau tepatnya kita, adalah orang yang beruntung. Dan kalau tidak keberatan, aku akan selamanya menyebut kita adalah orang yang beruntung karena hidup kita diisi dengan persahabatan.

Aku harap kita sendiri masih menjadi manusia bebas yang mampu terbang dengan sayap kita lalu hinggap ke sana ke mari dengan pikiran dan ide-ide kita. Aku harap di masa depan kita bekerja bukan sekadar untuk menyambung hidup saja, namun jauh lebih berharga daripada itu; mengisi hidup.

Begitu pula dengan persahabatan, bukan sekedar menyambung hidup, namun juga mengisi hidup. Bagaimana, indah bukan?

Terserah padamu, Bud.

Yogyakarta, Jumat Wage 29 Juni 2012

Memorabilia

buat Bapak

Dua puluh tahun kemudian
sesosok pria renta
dengan kerutan pada wajahnya,
tanpa kupu,
dan tanpa bunga,
duduk di teras rumahnya.

Tak ada lagi anak kecil
yang ditemaninya
mengejar kupu kuning
di antara para bunga,
hanya pria hampir dewasa,
dengan cinta pada dua tangannya
dan sepasang mata,
 redup memandang dunia.

(Ah, Bapak, kenapa kita
akhirnya jadi tua juga?)

2012

Rasanya Baru Kemarin

buat  Narendra

Rasanya baru kemarin,
aku bermain mesra
dengan tanah becek dan hujan.

Rasanya baru kemarin,
si gadis kecil tampak lucu
dengan hatinya yang lugu.

Rasanya baru kemarin,
sang angin membisikkan namamu dengan ramah.
jiwaku ditiup lembut hembusan
Sang Narendra.

Rasanya baru kemarin,
cinta menghiasi dirinya dengan rindu.
Prabu Rama bercanda mesra dengan Dewi Sinta.

Rasanya baru kemarin,
hatiku menari kecil
pada cakrawala kala senja,
menerakan bianglala.

2012

Mute

One day, there was a soliloquy :
Why me?
How could this happen to me?
Where is “yesterday”?
What is a “future”?
Bundet, unbalanced and unstable.
Ego, please you go.
And I said nothing.
I found nothing but lonely, not silence.
I was mute.

2012

Don Quixote

Part I
Imagine,
happiness is an epidemic chronic disease
in every human being!
Everybody is dying now.”
said Don Quixote.


Part II
Fyodor, have you ever
experienced an existential frustation?
Everything was wrapping up
in a very deep sense of longing.
Hesitant,
confused,
felt not yourself,
stood up,
walked over,
alive.
Suddenly you were dying
on your ideology.
Did you know
whether we're having
an eternal life
but embracing the mortality?
Did you know
the easiness
and the beauty of mortality?
Answer me, Don Quixote!

2012

Kamis, 16 Februari 2012

Cinta dan Egoisme; Saya

Adalah sebuah hukum dan kekuatan eternal dalam kehidupan; cinta. Saya tidak mengada-ada bahwa setiap manusia pernah memunculkan pertanyaan apa itu cinta dan setidaknya pernah menikmatinya. Sekalipun mereka yang berada pada alasan untuk mati, dengan harapan terbebas. Matahari menyinari bumi, anjing diberi makan, bayi dilahirkan; semua ini merupakan wujud dari sebuah hukum eternal tersebut; cinta. Cinta bersifat universal, terhadap siapapun dan apapun. Kita tidak bisa menampik bahwa cinta adalah kebutuhan dasar manusia. Tidak menutup kemungkinan rasa tidak bebas pun juga mengandung cinta. Memang, cinta bukanlah sesuatu yang secara penuh bebas.

Cinta yang bebas adalah cinta yang egois. Egois sendiri adalah degenerasi dari cinta, yakni cinta akan diri sendiri. Hal ini merupakan wujud dari kebutuhan akan cinta yang tidak tersalurkan ke dunia eksternal sehingga menyalurkan hasrat untuk mencintai diri sendiri. Cinta adalah ikatan, adalah sebuah hukum tarik-menarik, begitu juga dengan egoisme. Keterikatan tidak akan pernah mendatangkan kebebasan. Semakin kita mencari kebebasan lewat cinta maka akan semakin kita tidak menemukannya. Kebebasan hanya ada dalam pikiran kita, ketika kita membuatnya menjadi nyata maka kebebasan itu telah tiada. Sebagai contoh, kita merasa mencintai seseorang. Kita memiliki kebebasan yang tidak terbatas dalam memikirkan maupun membayangkannya. Namun, ketika kita mulai untuk memanifestasikan rasa cinta itu ke dalam perbuatan maka yang terjadi adalah adanya batasan dari hal-hal tertentu, misalnya piranti untuk berekspresi dan eksistensi diri kita.

Hasrat manusia untuk mencintai dan dicintai sungguh tidak pernah akan terpuaskan. Semua manusia mendambakan cinta yang sempurna. Menurut saya, hasrat mencintai menjadi sebuah implikasi utama dari cinta yang diperoleh sebelumnya. Dengan begitu, mencintai adalah respon dari dicintai. Namun, belum tentu keduanya berkorelasi satu dengan lainnya. Sebagai contoh; A mencintai B, namun belum tentu B mencintai A. Sangat mungkin B mencintai C, D, maupun E. Dengan demikian, cinta tidak bersifat korelasional. Cinta yang korelasional hanya dimunculkan oleh seseorang yang memberikan cinta secara tidak tulus, cinta tersebut adalah egoisme.

Bagi manusia yang percaya akan Tuhan, hukum cinta layaknya hukum gravitasi. Sebuah batu yang dilemparkan ke atas akan selalu jatuh kembali ke bumi. Andaikan kita memulai dengan memberi asosiasi kata “atas” dengan Tuhan, jika kita mencintai Tuhan maka cinta yang kita berikan akan kembali kepada kita (=bumi). Oleh karena itu, ketika kita membagikan cinta kepada orang lain, maka cinta yang kita miliki tidak akan berkurang. Namun, kita perlu untuk mawas diri. Ketika kita mencintai orang lain, terkadang kita rela untuk kehilangan diri kita sendiri.

Tuhan adalah cinta. Manusia yang bisa bertemu denganNya adalah manusia yang bahagia dan telah disucikan dari dosa. Saya sendiri lebih memilih untuk percaya bahwa Tuhan adalah sosok ideal yang dicita-citakan manusia. Dengan demikian sia-sia jika kita ingin bertemu denganNya, karena Dia adalah ego ideal kita; adalah diri kita sendiri. Manusia selalu mendambakan untuk menjadi Tuhan. Dalam The Individual and His Religion, Allport menyampaikan bahwa sifat ketuhanan adalah omnipotent, omniscient, redeemer, dan holy spirit. Tanpa contoh pun, tentu saja kita telah melihat hasrat manusia yang begitu besar untuk memiliki segala kekuasaan, kemampuan, pengampunan, bahkan roh yang kudus. Hasrat manusia untuk menjadi Tuhan (=cinta) ini mendorong manusia memiliki kebutuhan akan cinta. Ditambah lagi Tuhan diwujudkan dalam rupa seorang manusia, dengan demikian kita telah disadarkan bahwa hati manusia lebih mudah mencintai manusia lain dibandingkan dengan sosok yang bukan “sesuatu” itu.

Cinta juga bisa jadi kelemahan diri dari seseorang. Dalam Thus Spoke Zarathustra, Nietzche meyampaikan bahwa; “ada yang pergi kepada sesamanya karena dia mencari dirinya sendiri, ada juga yang karena senang hati kehilangan dirinya sendiri”. Cinta yang demikian juga berada dalam tataran egoisme dan menurut saya memiliki keterikatan yang tidak sehat. Sekali lagi saya tegaskan bahwa cinta dan egoisme tidak berlawanan pada prinsipnya; keduanya berakar pada eksitensi seseorang dan kebutuhannya, hanya saja berlawanan pada sifatnya.

Cinta adalah revolusi. Menuntut perubahan dan perkembangan merupakan implikasi fundamental dari cinta. Perubahan dalam hal apapun akan memiliki arti penggantian pikiran atau perbuatan yang lama dengan pikiran atau perbuatan yang baru. Cinta yang ideal menuntut diri kita untuk berbenah diri dan oleh karenanya kita tidak kehilangan diri kita sendiri, justru kita akan lebih mengeksplorasi diri kita. Lain dengan cinta yang neurotik (=egoisme). Egoisme menuntut orang lain untuk berubah dan ini merupakan bentuk sempit dari perbudakan. Konsekuensi dari adanya perbudakan adalah revolusi dari sang budak. Secara implisit kita berusaha memiliki kuasa atas orang lain, artinya kita terikat terhadap orang lain dan kita akan kehilangan diri kita.

Tulisan ini saya buat atas cinta yang ada dalam diri saya. Sepanjang kehidupan kita, cinta terhadap seseorang (=lawan jenis) adalah suatu hal yang terasa sangat berwarna (selanjutnya saya akan menyebut cinta sebagai suka, hal ini didasari dengan pandangan saya bahwa “cinta” itu sendiri universal dan suka lebih spesifik dan mengandung personalitas yang kuat). Suatu kali saya tidak menyukai seseorang, namun hari ini saya menyukainya. Dengan kata lain saya mencintainya. Saya pernah menyukai seseorang kemudian hari ini tidak. Namun saya tetap mencintainya. Sekali lagi, cinta itu universal, berlaku dalam konteks yang lebih luas dan lebih mulia.

Sekarang (dan mungkin besok) saya sedang menyukai seseorang. Lalu bagaimana mungkin saya mengetahui bahwa saya menyukainya? Saya bukanlah orang yang pintar untuk membaca diri saya, apalagi hal yang berada di luar saya. Setiap saya berpikir, dalam horison pikiran saya adalah perempuan itu. Setiap saya menikmati kesunyian saya, gambaran ayu wajahnya selalu memenuhi dan bahkan terus menari-nari dalam pikiran saya. Senyumnya begitu halus bagaikan gulungan ombak paling akhir yang meninggalkan buihnya. Matanya memandang seperti purnama yang begitu cerah dalam hamparan langit berbintang. Sesaat bersamanya adalah abadi. Itu yang saya alami, dan setidaknya yang saya ingat. Jika kita memiliki konsep istilah “suka” yang sama, maka saya menyukainya. Ya, saya menyukainya. Sayangnya, saya bukanlah orang yang dengan mudah dan pemberani untuk menyampaikannya.

Pikiran dan bayangan tersebut bukanlah hal yang bisa saya cegah. Bukankah dengan demikian kebebasan saya sebenarnya telah terbatasi secara tidak sadar? Begitulah, seperti kata Tolstoy bahwa perempuan itu lebih berkuasa dibandingkan laki-laki. Laki-laki selalu terpengaruh dengan apa yang ada dalam perempuan, bahkan terkadang rela untuk melakukan apa saja yang kiranya berpotensi untuk kehilangan diri. Namun menurut saya, keduanya saling memiliki kuasa masing-masing. Hanya saja untuk mengukurnya akan sangat sulit, karena piranti untuk mengukur suatu hal yang berada dalam abstraksi kita pastilah mustahil. Sekarang menjadi lebih jelas bahwa kebebasan itu tidaklah bersifat penuh. Kita harus menerima ketidakbebasan ini dengan rendah hati. Terlebih lagi, rasa suka juga mengandung rasa tanggung jawab. Ketika dia sedang berada dalam perasaan yang buruk, saya langsung memikirkan suatu hal yang bisa membuat dia bahagia. Lagi-lagi kita terikat. Tapi suka memang bentuk spesifik dari cinta yang membuat saya akan menemukan diri saya.

Pengalaman jatuh cinta adalah hal yang menarik untuk dipahami. Pengalaman yang terasa seperti bunga mawar yang mekar tidak pada musimnya. Begitulah, saya selalu merindukannya, membayangkannya, dan bahkan terkadang memimpikannya. Beruntungnya kita memiliki sisi revolutif dalam hasrat kita, yakni cinta. Kita mampu mengubah bayangannya menjadi hal yang akan memotivasi diri kita, bukan hanya merendam diri kita dalam rasa rindu. Ya, barangkali itu yang saya maksudkan dengan cinta (=suka). Saya percaya, saya tidak akan kehabisan cinta itu, tapi kita memiliki kebebasan penuh untuk mengendalikannya. Cinta (=suka) tidak akan terenggut sepenuhnya oleh apapun, karena dia adalah pemberontak ulung dalam diri kita. Dialah revolusi itu, dialah satu-satunya ketidakbebasan yang tidak mengacaukan saya, namun dia tetap bukan Tuhan. Karena, Tuhan adalah setiap dari kita yang mampu memahami lalu membagikan cinta.


(Beberapa orang mungkin akan memandang bahwa tulisan ini terlalu personal untuk dipublikasikan. Tapi saya rasa tidak, karena bukanlah sesuatu yang eksentrik. Yang lain mengganggapnya sebagai manifestasi kebutuhan akan cinta. Ya, hal tersebut benar. Kemudian yang lain menganggap ini merupakan proyeksi dari rasa ketidakberanian saya untuk menyampaikannya kepada yang bersangkutan, kembali saya akui bahwa Anda benar. Tapi kemudian yang menjadi pertanyaan dan harus kita jawab adalah; sebenarnya, “keberanian” sendiri itu apa?)

Jumat, 20 Januari 2012

Bercermin dari India

For God’s sake, let us embrace like brothers!

Dalam perjuangan kemerdekaan India, Nehru melantangkan seruan di atas ketika berpidato menentang kekerasan dalam konflik antara kaum Hindu dengan kaum Muslim. India, sebuah negeri yang disebut Max Muller sebagai  tempat di mana manusia telah memikirkan masalah-masalah tersebar dalam kehidupan ini secara sangat mendalam serta menemukan jawaban yang pantas atas masalah tersebut. Negeri dengan penduduk nomor dua di dunia tersebut menyimpan diversitas kultural yang begitu kaya akan nilai.
Tidak lepas dari peristiwa tersebut di atas, adalah seorang pria asketis dengan tubuh kurus yang membuat pakaiannya sendiri dengan alat pemintalnya yaitu Mohandas Karamchand Gandhi. Gandhi disebut-sebut sebagai pembawa perubahan dan corong hati nurani manusia. Berbagai percobaan mengenai kebenaran dan ahimsa telah membuka mata banyak orang ketika itu, termasuk bangsa Inggris yang ketika itu menduduki bumi India. Tak pelak lagi, cita-cita seorang Gandhi dihidupi oleh banyak pengikutnya. Bahkan mungkin sampai saat ini.
Dalam buku tulisannya, All Men Are Brothers, Gandhi berpendapat bahwa “Di rumah Tuhan terdapat banyak bagian rumah dan semuanya sama kudusnya”. Yang dimaksud Gandhi dengan bagian rumah adalah agama. Bahkan mungkin bagian rumah itu sama banyaknya dengan jumlah seluruh manusia di jagad raya. Betapa sederhananya kata-kata yang diungkapkan Gandhi, namun begitu luarbiasanya apa yang telah dihidupinya. Tidak perlu dengan membuat karya sastra atau penemuan yang besar di dunia, cukup dengan hidup berpegang pada pencarian terhadap kebenaran (=Tuhan).
Beberapa hari ini telinga, mata, dan hati kita dihiasi ironi dalam negeri sendiri, yakni berkaitan dengan konflik berlatarbelakang agama. Satu di GKI Yasmin kota Bogor, dan satu lagi di Yogyakarta; yang terkenal sebagai kota dengan tingkat toleransi beragama cukup tinggi di Indonesia. Betapa mirisnya peristiwa ini sehingga banyak pengecaman terjadi, termasuk lewat jejaring sosial. Apakah ini wajah agama di Indonesia? Bukannya saling hidup dalam cinta, namun justru membuat yang lain tiada. Yang kemudian muncul dalam benak kita adalah “Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Apa penyebabnya?”, kemudian disusul dengan pertanyaan “Bagaimana cara mengatasinya?”. Masih samar-samar apakah benar ini manifestasi fundamentalisme atau neo-fundamentalisme. Fundamentalisme adalah suatu paham yang mempertahankan sesuatu secara konservatif dan radikal, dalam hal ini agama. Sedangkan neo-fundamentalisme sendiri merupakan metamorforsis fundamentalisme yang kemudian masuk ke dalam dunia politik.
Jauh dari hal tersebut, agama sendiri merupakan pembiasan dari kebutuhan manusia untuk mengatasi rasa tidak berdaya mereka, khususnya rasa takut. Baik takut akan kematian maupun takut akan musuh, kemiskinan, dan ancaman eksternal lainnya. Dibalik rasa takut yang bersifat resiprokal ini, timbullah hasrat untuk bersahabat. Artinya kita membutuhkan cinta untuk menjalani relasi persahabatan tersebut. Dan hasrat cinta sendiri sifatnya tidak akan pernah terpuaskan. Tidak ada orang yang tidak membutuhkan cinta, meskipun dia orang paling bahagia di jagad raya. Tentu saja kedengaran menggelikan di telinga kita antara agama, takut, dan cinta, dengan kekerasan di dunia yang bersama-sama kita injak saat ini. Yang mungkin akan sulit kita pahami adalah hubungan antara cinta dan kekerasan. Adakah agama yang mengajarkan kekerasan adalah sebuah benih unggul dari cinta? Rasanya tidak ada agama yang mengajarkan hal tersebut. Sedangkan meniadakan yang lain, apakah itu sebuah cinta? Kesimpulan sementaranya adalah bahwa pemahaman para pelaku mengenai agama justru sangat dangkal. Mereka memahami agama dengan sangat praktis, akibatnya kesalehan yang salah terjadi dalam implementasi kehidupan sosial. Yang terjadi pada akhirnya adalah dehumanisasi manusia.
Dan nyatanya, dalam realita yang begitu kompleks ini, kita membutuhkan semangat Gandhi yang mempertemukan kita dengan perdamaian, yakni ahimsa dan kebenaran. For God’s sake, let us make peace!